Home » Penting diketahui: 9 Adab Hubungan Intim Sesuai Sunnah

Penting diketahui: 9 Adab Hubungan Intim Sesuai Sunnah

adab hubungan intim

Setiap pasangan suami istri sudah seharusnya memahami, menghafal dan mengamalkan adab-adab hubungan intim ini. Dengan mengetahui dan mengikuti adab-adabnya, selain saling memberikan kenikmatan, aktivitas tersebut juga diharapkan berbuah pahala dan mengundang keberkahan.

1. Membaca Basmalah Dan Memohon Perlindungan Kepada Allah

Sebelum memulai bermesraan, bahkan sebelum saling membuka baju, mulailah dengan membaca basmalah dan berdoa. Jangan menunggu momen penetrasi (memasukkan Mr.P ke Miss.V) untuk membaca basmalah dan berdoa. Dengan dilakukan di awal, semoga setiap aktivitas tersebut diberkahi dan dilindungi dari keburukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian ingin mendatangi istri (untuk beraktivitas seksual), maka bacalah:

بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Bismillah, Allahumma jannibnasy syaithona, wa jannibisy syaithona maa rozaqtana.

“Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan, dan jauhkanlah setan dari rizki (anak) yang Engkau berikan kepada kami”,

Seandainya dari jimak tersebut ditakdirkan seorang anak, maka setan tidak bisa membahayakan anak itu selamanya” [Sahih al-Bukhari, kitab doa, hadis no. 6388]

2. Jangan Lewatkan Pemanasan

Pemanasan atau foreplay adalah aktivitas seksual yang sangat penting. Aktivitas inilah yang akan menumbuhkan gairah seksual pada puncak gairahnya dan mempersiapkan bagian genital untuk aktivitas inti.

Kami membuat artikel tersendiri tentang pemanasan atau foreplay ini.

Salah satu hadis yang menunjukkan bahwa pemanasan dan bercumbu adalah bagian penting dari aktivitas seksual yang diperhatikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadis tentang Jabir (semoga Allah meridainya) yang menikah dengan seorang janda. Hadis ini adalah potongan dari hadis yang panjang tentang Jabir(semoga Allah meridainya) yang bercerita tentang dirinya ketika ikut gazwah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Jabir, “Apakah engkau menikahi gadis atau janda?” Jabir menjawab, “Aku menikahi janda”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kenapa engkau tidak menikahi gadis, sehingga engkau bisa mencumbunya dan juga sebaliknya, ia bisa mencumbumu?”

Lalu Jabir (semoga Allah meridainya) menjelaskan alasan kenapa dia menikahi seorang janda. [Sahih al-Bukhari, kitab jihad, hadis no. 2967]

Dari hadis tersebut, bisa disimpulkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharapkan adanya percumbuan di antara suami istri, apalagi untuk pengantin baru.

Hadis ini sama sekali bukan menyimpulkan bahwa janda tidak bisa diajak dan tidak suka bercumbu. Tidak demikian. Karena janda pun tentu memiliki hasrat seksual. Allahu a’lam, kita tidak tahu persis kondisi janda yang dinikahi Jabir (semoga Allah meridainya) saat itu.

3. Diperbolehkan Telanjang Dan Saling Melihat Kemaluan

Salah satu kenikmatan yang didapat dari pernikahan adalah kenikmatan untuk bisa memandang tubuh lawan jenis dengan halal, termasuk halal-nya melihat bagian yang paling intim, yaitu kemaluan. Di antara hadis yang menunjukkan bolehnya memandang kemaluan adalah:

Hadis Pertama. Aisyah (semoga Allah meridainya) berkata,

“Aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu wadah yang terletak di antara saya dan beliau. (Tangan kami bere-butan menciduk air dari wadah itu), Beliau menang dalam perebutan itu, lalu saya mengatakan: sisakan untukku… sisakan untukku.” Aisyah berkata: “Kami berdua saat itu dalam keadaan junub.” [Sahih Muslim, kitab  haid, hadis no. 321]

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata, “Ad-Daudi berdalil dengan hadis ini tentang bolehnya laki-laki memandang aurat istrinya dan sebaliknya.”

Hadis Kedua. Bahz bin Hakim berkata, “ayahku bercerita bahwa kakekku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

‘Wahai Rasulullah, aurat manakah yang harus kami tutup dan aurat manakah yang boleh kami perlihatkan?’ Beliau menjawab, “Jaga aurat-mu kecuali terhadap istri dan hamba sahayamu (budak wanita)”. Saya bertanya lagi, “Bagaimana bila lelaki dengan lelaki?” Beliau menjawab, “Jika engkau bisa menutupinya sampai tidak ada yang bisa melihatnya, maka lakukanlah.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana jika dalam keadaan sendirian?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Diban-dingkan dengan semua makhluk, Allah lebih berhak untuk kita merasa malu kepada-Nya.” [Jami at-Tirmidzi, kitab adab, hadis no.2996]

Ada hadis larangan telanjang, tetapi derajat hadisnya lemah

Sebagian orang ada yang memakruhkan untuk melihat kemaluan suami atau istrinya dengan dengan dalil berikut:

Pertama, Hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dalam kitab sunannya (662) yaitu: dari Musa bin ‘Abdillah, dari bekas budak Aisyah, dari Aisyah (semoga Allah meridainya), ia berkata,

“Aku tidak pernah memandang -atau tidak pernah melihat- kemaluan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali.”

Hadis ini adalah hadis lemah yang tidak bisa dijadikan dalil karena perawi dari Aisyah tidak diketahui siapa. Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Fathul Bari (1: 336) mengatakan bahwa dalam sanad hadis ini ada perawi yang tidak dikenal. [dikutip dari Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Adab Az-Zifaf: Panduan Pernikahan Cara Nabi. Terj: Abu Shafiya, (Jogjakarta: Media Hidayah 2004) hlm. 98]

Kedua, hadis yang berbunyi:

“Apabila salah seorang dari kalian mendatangi istrinya, maka hendaklah ia menutupi (kemaluannya), dan janganlah keduanya bertelanjang bulat.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1/592) dan dihukumi cacat oleh Al-Bushiri.[Dikutip dari Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Adab Az-Zifaf: Panduan Pernikahan Cara Nabi. Terj: Abu Shafiya, (Jogjakarta: Media Hidayah 2004) hlm. 98 (footnote nomor 67)]

Ketiga, hadis yang berbunyi:

“Apabila salah seorang dari kamu menjimak istrinya atau budak perem-puannya, maka janganlah ia melihat kemaluannya, karena hal itu akan menyebabkan kebutaan”

Ini adalah hadis palsu (Maudhu’) sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Abu Hatim, Ar-Razi dan Ibnu Hibban. [Dikutip dari Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Adab Az-Zifaf: Panduan Pernikahan Cara Nabi. Terj: Abu Shafiya, (Jogjakarta: Media Hidayah 2004) hlm. 98 (footnote nomor 67)]

Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya, bahkan Dia menghendaki kemudahan bagi kita. Ketika pasangan suami istri telah berada di ruangan yang tertutup dari pandangan orang lain, maka Allah tidak lagi membebani mereka dengan keharusan memakai selimut atau penutup lainnya. Karena bisa jadi penutup itu akan mengganggu akti-vitas seksual mereka dan mengurangi sensasi nikmat dari sentuhan dan pandangan yang mereka lakukan.

Menyentuh dan memandang yang halal adalah karunia Allah Ta’ala yang boleh suami istri nikmati. Dengan karunia tersebut, pasangan suami istri bisa merasakan kenikmatan dan keintiman yang maksimal dalam berinteraksi seksual.

4. Selama Di Vagina, Boleh Berjimak Dengan Cara Apapun Dan Dari Arah Manapun

Seorang suami diperbolehkan menjimak istrinya dari arah manapun dan dengan cara bagaimanapun juga, sebagaimana tertera di dalam firman Allah Ta’ala yang artinya:

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimanapun yang kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwa-lah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. (Al-Qur’an, surat Al-Baqarah: 223)

Imam An-Nawawi (semoga Allah merahmatinya) dalam kitab Al-Minhaj berkata, “Di ayat ini, Allah Ta’ala menggunakan kata ‘hars’ yang artinya tempat menanam. Tempat bercocok tanam pada wanita adalah di kemaluannya (vagina), karena hanya pada tempat itulah air mani bisa bersemai untuk mendapatkan keturunan. Untuk mencapai vagina, posisi apapun dan dari arah manapun diperbolehkan, boleh dari depan ataupun dari belakang, boleh telentang ataupun tengkurap”

Di antara hadis yang membicarakan masalah ini adalah:

Pertama, Jabir bin Abdillah (semoga Allah meridainya) berkata: “Dahulu orang-orang Yahudi biasa berkata, “Jika seorang laki-laki menyetubuhi istrinya dari arah belakang, maka anak yang nantinya lahir akan bermata juling.” Lalu turunlah firman Allah Ta’ala,

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehen-daki.” (Al-Qur’an, surat Al-Baqarah: 223)[9]

Kedua, Ibnu Abbas (semoga Allah meridainya)berkata, “Dahulu, negeri ini (Madinah) adalah negeri kaum Ansar. Ketika mereka masih sebagai penyembah berhala, mereka hidup berdampingan dengan kaum Yahudi (Yahudi tentu beragama dan memiliki kitab).

Kaum Ansar merasa bahwa orang-orang Yahudi lebih utama dan lebih banyak keilmuannya daripada mereka, sehingga kaum Ansar banyak meniru tingkah laku kaum Yahudi. Di antara perbuatan orang-orang Yahudi adalah mereka tidak mendatangi istri-istrinya kecuali dalam keadaan miring, karena hal itu lebih menutupi bagian tubuh perempuan. Kaum Ansar yang tinggal di Madinah pun meniru perbuatan itu dari mereka.

Sedangkan kaum Quraisy (yang berasal dari Makkah) menjimak istri-istrinya dengan cara yang sangat bebas. Mereka mendatangi istri-istri mereka dari depan, dari belakang dan dari samping.

Ketika orang-orang Muhajirin (orang Makkah) pindah ke Madinah, ada salah seorang dari mereka yang menikahi seorang wanita Ansar. Ketika ia mendatangi (menjimak) istrinya dengan cara orang Quraisy, istrinya menolak cara itu, dan berkata, “Sesungguhnya kebiasaan kami dalam berjimak adalah dengan cara miring. Jika kamu mau menggauli saya, lakukan dengan cara itu, dan kalau tidak, maka jauhilah saya.”

Berita tentang peristiwa tersebut akhirnya menyebar dan sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Maka turunlah firman Allah yang berbunyi,              

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehen-daki.” (Al-Qur’an, surat Al-Baqarah: 223)

Ibnu Abbas menjelaskan, “Maksudnya, datangilah istri-istri kalian dari depan, dari belakang, atau dari samping asalkan pada vaginanya.” [Sunan Abu Dawud, kitab pernikahan, hadis no. 2164 (dihasankan oleh Al-Albani)]

5. Dilarang Menjimak Istri Pada Dubur (Anal Seks)

Haram hukumnya seorang suami menyetubuhi istri pada dubur atau anusnya, yang dikenal dengan anal seks. Beberapa hadis berikut ini menguatkan keharaman perbuatan tersebut:

Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Terlaknatlah orang yang menyetubuhi istrinya di duburnya.” [Sunan Abu Dawud, kitab pernikahan, hadis no. 2162 (dihasankan oleh Al-Albani)]

Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di dubur-nya, atau mendatangi seorang dukun, maka ia telah kufur terhadap yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Sunan Ibnu Majah, kitab taharah, hadis no. 639]

Ancaman yang ditunjukkan pada dua hadis di atas menunjukkan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar, karena disertai laknat dan dinyatakan sebagai suatu kekufuran.

6. Dilarang Berjimak Dengan Istri Yang Sedang Haid Atau Nifas

Imam An-Nawawi (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Kaum muslimin sepakat tentang haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih.”

Sebagaimana hadis yang disebutkan di poin sebelumnya:

 “Barang siapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, atau mendatangi seorang dukun, maka ia telah kufur terhadap yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[Sunan Ibnu Majah, kitab taharah, hadis no. 639]

7. Boleh Melakukan Aktivitas Seksual (Selain Jimak) Dengan Istri Yang Sedang Haid

Saling bercumbu, saling menyentuh, saling meraba bahkan saling merangsang sampai keluar air mani pun diperbolehkan selama tidak melakukan jima. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haid) kecuali  nikah (jimak).”[Sahih Muslim, kitab tentang haid, hadis no. 302]

Tentang masalah ini, Aisyah (semoga Allah meridainya) bercerita,

Jika di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin bercumbu dengannya, maka beliau memintanya untuk menutupi tempat haid dengan kain, kemudian beliau mencumbunya. Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjimak) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?” [Sahih Muslim, kitab tentang haid, hadis no. 293]

Pada permasalahan ini, kami membuat artikel tersendiri bagaimana menyalurkan hasrat seksual ketika istri sedang haid.

8. Jika Ingin Mengulangi Jimak

  • Berwudu

Jika suami selesai berjimak, kemudian ia bermaksud untuk mengulanginya lagi, maka dianjurkan untuk berwudu terlebih dahulu, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Jika salah seorang di antara kalian menyetubuhi istrinya, lalu ia ingin me-ngulanginya kembali, maka hendaklah dia berwudu” [Sahih Muslim, kitab tentang haid, hadis no. 308]

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan hadis ini berkata, “Perintah wudu di sini adalah sunah (anjuran), bukan wajib.”

  • Mandi

Walaupun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadis sebelumnya menganjurkan untuk berwudu ketika akan mengulang jimak, tetapi lebih utama untuk mandi dulu ketika akan mengulang jimak. Sebagai-mana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Rafi’:

Suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggilir istri-istrinya. Beliau mandi di tempat istrinya yang ini dan di tempat istrinya yang ini (beliau mandi setiap selesai berhubungan). Saya bertanya kepada beliau “Wahai Rasulullah mengapa engkau tidak mandi sekali saja?” Beliau menjawab:

Cara ini lebih bersih, lebih baik dan lebih suci.”[Sunan Abu Dawud, kitab taharah, hadis no. 219 (hadis hasan)]

9. Bersuci Sebelum Tidur

Setelah selesai beraktivitas seksual, dianjurkan untuk membersihkan kemaluan lalu berwudu atau mandi junub sebelum tidur. Hal tersebut berdasarkan beberapa hadis, antara lain:

  1. Aisyah (semoga Allah meridainya), ia berkata, “Rasulullah apabila hendak makan atau tidur dan beliau dalam keadaan junub, maka beliau akan berwudu terlebih dahulu.[Sunan Abu Dawud, kitab taharah, hadis no. 224]
  2. Ibnu Umar (semoga Allah meridainya), ia berkata, “Suatu hari Umar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kami tidur dalam keadaan junub?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, kalau sudah ber-wudu.’ Dalam riwayat lain dikatakan, ‘Ya, boleh, tapi hendaklah kamu berwudu dan bersihkan kemaluanmu, baru tidur.’ Dalam riwayat yang lain, ‘Ya, hendaklah berwudu baru tidur, kalau mam-pu mandi, mandilah’.” [Sunan Abu Dawud, kitab taharah, hadis no. 221]

Hukum bersuci sebelum tidur ini tidak wajib, tetapi hal ini sangat ditekankan (sunah muakkadah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah tertidur sedangkan beliau belum bersuci. Sebagaimana Aisyah (semoga Allah meridainya) bercerita “Rasulullah pernah tertidur, sedangkan beliau dalam keadaan junub. Beliau tidak menyentuh air hingga beliau terbangun dari tidurnya lalu mandi” [Jami at-Tirmidzi, bab taharah, hadis no. 118]


Demikian adab-adab hubungan intim sesuai sunnah yang disarikan dari berbagai sumber. Bukan hanya untuk pengantin baru, setiap pasangan suami istri hendaknya memahami, menghafal dan mengamalkan adab-adab ini. Dengan mengetahui dan mengikuti adab-adabnya, diharapkan aktivitas seksual yang memberikan kenikmatan ini sekaligus berbuah pahala serta mengundang keberkahan.

Semoga bermanfaat. Salam harmonis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *