Home » Calon Pengantin Harus Tahu 7 Adab Malam Pertama Islami Ini

Calon Pengantin Harus Tahu 7 Adab Malam Pertama Islami Ini

Ada beberapa adab malam pertama islami yang sebaiknya dilakukan. Dengan mengikuti adab-adabnya, diharapkan tercipta interaksi yang harmonis dan penuh dengan keberkahan.

Berikut ini beberapa etika atau adab malam pertama islami yang disarikan dari hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Membersihkan Diri dan Berhias

Sebelum melakukan pertemuan pertama ini, siapkan dirimu dengan sebaik mungkin.

Mempersiapkan diri dengan mandi, menyikat gigi, memakai parfum dan berpenampilan menarik adalah beberapa persiapan yang akan membuat malam pertama tersebut berkesan dan membuat pasangan merasa nyaman di dekatmu.

Jangan lupa juga untuk melakukan 5 hal fitrah sebagaimana yang dianjurkan Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam yaitu: mencukur rambut disekitar kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabuti bulu ketiak dan memotong kuku.

2. Mengucapkan Salam

Ketika pertama kali bertemu, hendaknya saling mengucapkan salam.

3. Mencairkan Suasana dengan Minum Bersama

Karena pertama kalinya kalian bertemu secara pribadi, maka sangat wajar jika muncul rasa malu, kikuk, grogi, khawatir dan perasaan-perasaan canggung lainnya.

Istri biasanya akan merasa lebih gugup dan lebih kaku. Oleh karena itu, suami harus menunjukkan perannya sebagai orang yang bisa membuat istrinya merasa aman dengan cara menciptakan suasana yang nyaman.

Salah satu cara untuk mencairkan suasana adalah dengan membawakan dan menyuguhkan minuman seperti susu atau teh untuk diminum dari gelas yang sama. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Asma binti Yazid tentang apa yang terjadi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Aisyah (semoga Allah meridainya)

Asma binti Yazid berkata, “Saya merias Aisyah untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian saya memanggil beliau untuk masuk melihatnya. Maka Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dan duduk di samping Aisyah.”

“Seseorang datang memberikan segelas besar susu pada beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminum susu tersebut, dan menyuguhkannya kepada istrinya (Aisyah). Tapi istrinya menundukkan kepalanya dan malu-malu.”

“Saya (Asma) katakan kepada Aisyah, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Nabi’. Maka dia (Aisyah) mengambil gelas itu dan meminumnya sedikit. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ‘Berikan kepada temanmu’.”

“Saya (Asma) berkata, ‘Ya, Rasulullah, ambil kembali gelas itu dan minumlah sebagian dari susu itu, kemudian berikan gelas itu kepada saya langsung dari tangan Anda’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima kembali gelas itu dan meminumnya. Kemudian memberikannya kepada saya.”[1]

4. Berdoa Memohon Kebaikan dan Berlindung dari Keburukan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak, maka peganglah kepalanya lalu bacalah ‘basmalah’ serta doakanlah dengan doa berkah seraya mengucapkan:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau takdirkan padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburu-kannya dan keburukan yang Engkau takdirkan kepadanya.”[2]

Jika dikhawatirkan istri merasa tersinggung bila disentuh kepalanya untuk dibacakan doa tersebut, maka cara menyentuhnya bisa dilakukan sambil seolah-olah hendak mencium keningnya. Doa diucapkan dengan pelan saja, sehingga tidak terdengar oleh istri, namun doa harus tetap diucapkan dengan lisan meski tidak terdengar.

5. Salat Sunnah Berjamaah

Dianjurkan bagi kedua mempelai untuk mengerjakan salat sunah dua rakaat. Ingat, ini dilakukan hanya berdua saja, oleh suami dan istri. Jangan mengajak orang lain. Suami menjadi imam, dan istri menjadi makmum.

Setelah salat, panjatkan rasa syukur atas pernikahan yang telah dilaksanakan. Mohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memberkahi keluarga barumu, melindunginya dari keburukan, melimpahkan kebaikan, kesejahteraan, ketenangan, cinta kasih, dan mengaruniai keturunan yang saleh dan salehah. Berdoalah dengan penuh pengharapan kepada Allah Yang Maha Mengabulkan doa.

Salah satu kisah tentang ini adalah hadis dari Syaqiq, ia berkata: “Seorang laki-laki bernama Abu Huraiz datang kepada Abdullah Ibnu Mas’ud dan ber-kata, ‘Saya telah menikahi seorang wanita jariah yang masih muda dan saya khawatir ia akan membuat saya marah’.

Maka Abdullah Ibnu Mas’ud menjawab, “Kerukunan itu datangnya dari Allah dan kemarahan itu datang dari syaitan. Syaitan menginginkan kamu membenci apa yang sudah Allah halalkan. Jika istrimu datang menghampiri, perintahkanlah ia salat sunah dua rakaat berjamaah di belakangmu.”

Abdullah Ibnu Mas’ud menambahkan, setelah salat, ucapkanlah doa: “Wahai Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada keluargaku. Wahai Allah, satukanlah kami dalam persatuan yang mengandung kebaikan dan pisahkanlah kami jika perpisahan itu membawa kepada kebaikan’.”[3]

6. Membangun Romantisme

Pada pertemuan pertama ini, kata-kata romantis dan pujian dari suami memiliki peran yang penting dalam membuka hati sang istri. Pujian terhadap penampilannya, pujian terhadap keindahan mata, bibir, hidung, rambut, kulit dan pujian untuk senyumnya yang manis akan membuatnya bahagia dan merasa berharga. Jangan lupa untuk mengucapkan masya Allah dan juga memuji Allah ketika kamu memuji sang istri.

Iringi juga rayuan-rayuan tersebut dengan aktivitas fisik yang menumbuhkan suasana romantis seperti menatap matanya dengan senyuman lembut, menggenggam tangannya dan juga membelai rambutnya. Dengan usaha ini, diharapkan bisa membuka hati dan menumbuhkan romantisme di antara pasangan pengantin baru ini.

7. Aktivitas Seksual di Malam Pertama

Naluri seksual setiap orang tentu berbeda-beda. Ada pasangan yang langsung merasa cocok dan bergairah di pertemuan pertama, tetapi ada juga pasangan yang takut dan waswas melakukan jimak untuk pertama kalinya. Hal itu wajar saja, karena itu adalah pengalaman pertama.

  • Tidak Harus Berjimak Di Malam Pertama

Kamu harus bersabar dan melihat kondisi pasangan. Jika memang belum siap, interaksi seksual yang menjurus kepada jimak (intercourse) tidak harus dilakukan di malam pertama. Berjimak di malam pertama bukanlah hal yang wajib. Yang paling penting di pertemuan pertama tersebut adalah membangun keakraban, keterbukaan dan romantisme.

  • Jangan Sungkan Jika Memang Sudah Siap

Ketika kedekatan mulai terjalin, ketika aktivitas seksual sudah bisa diterima dan dinikmati kedua belah pihak, ketika jantung berdebar kencang dan gairah seksual sudah terlihat di wajah masing-masing, maka sudah saatnya meluapkan gairah seksual tersebut dengan berjimak.

Untuk adab berjimak, kami tulis di artikel terpisah. Kamu bisa membacanya di sini.

Semoga bermanfaat. Salam harmonis.


[1] Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Adab Az-Zifaf: Panduan Pernikahan Cara Nabi. Terj: Abu Shafiya, (Jogjakarta: Media Hidayah 2004) hlm. 82

[2] Sunan Abu Dawud, kitab nikah, hadis no. 2160

[3] Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Adab Az-Zifaf: Panduan Pernikahan Cara Nabi. Terj: Abu Shafiya, (Jogjakarta: Media Hidayah 2004) hlm. 86

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *